bersahabat dengan diri sendiri
jujur, gw gak yakin kita semua bisa bersahabat dengan diri sendiri, karena gw termasuk golongan ini. ada saat di mana kita sangat benci diri kita, menyalahkan kenapa kita begini dan tidak begitu, kenapa apa yang kita lakuin gak sesuai dengan apa yang kita pikirin dan pengenin, kekurangan diri yang selalu dianggap sebagai suatu hambatan, kesalahan dan dosa yang selalu membayangi kehidupan, dan banyak alasan lain untuk merendahkan diri sendiri.
entah sejak kapan gw mulai berpikir: gw harus berdamai dengan diri sendiri! gw udah pernah berada pada suatu kondisi hampir berpisah dengan diri sendiri, saat di mana ‘kami’ saling memaki dan saling bentak, marah!! namun ‘kami’ sadar, banyak hal yang gak bisa dilakuin ketika gw gak hadir bersama diri gw. ketika gw mau ngelakuin sesuatu tapi diri ini gak mau turut serta, saat itulah semuanya terasa sangat sulit. hinaan yang didapat dari diri sendiri yang memaki kita karena gak bisa ngelakuin sesuatu, selalu jadi halangan dalam menerima sesuatu.
titik itu pun datang, titik nadir kehidupan gw ketika ‘kami’ akhirnya berkesimpulan bahwa semua ini salah, dan ‘kami’ harus berdamai!! ‘kami’ memiliki beberapa kesamaan yang bisa dijadiin titik temu atau ruang buat kami untuk berdiskusi, mendiskusikan banyak hal tentang mengapa dan bagaimana. ya, ‘kami’ pada akhirnya sadar bahwa ‘kami’ harus saling mendukung, saling membela, dan saling meyakinkan.
setelah itu, banyak hal yang gw raih di dalam hidup ini, walau terkadang ‘dia’ masih juga merasa sedih dan lemah. tapi itulah saat di mana ‘aku’ dapat berkata, "semangat teman, gw gak bisa ngelewatin ini tanpa lo", dan saat itu ‘dia’ bangkit dan ‘kami’ pun mulai berjalan bersama lagi.
sudah saatnya kita semua saling bersahabat dengan diri sendiri. pikiran2 liar dalam kepala kita, jangan dilawan, tapi coba dipahami dan dimengerti, karena ‘diri kita’ butuh untuk dimengerti. dia berbicara terkadang melalui polosnya suara hati atau angkuhnya teriakan nafsu. tinggal bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut, supaya ‘dia’ dan anda dapat berjalan bersama menghadapi dunia yang ternyata terlalu sulit untuk ditaklukkan seorang diri. kita ternyata butuh teman, dan diri kita sendiri adalah ’sesuatu’ yang paling dekat dengan kita.
love and peace for all, dan selamat menyapa diri lo sendiri
–the other side of me, whom i called ‘he’–
ket: ‘kami’ –> gw dan diri gw
‘dia’ –> diri gw
