ungkapan rasa ungkapan hati

October 7, 2007

Tentang VAKSINASI

Filed under: ku lihat dunia - Administrator @ 7:36 am

sekedar ingin berbagi tentang info penting seputar kehalalan vaksinasi. gw ngetik ulang dari majalah Hidayatullah, edisi 05 / XX september 2007. gak semua gw ketik, karena capek booooo’, hehehe…

moga bermanfaat :)

TAK ADA HALAL, HARAM PUN JADI (halaman 18)

MUI mengakui vaksinasi polio mengandung zat haram. namun, dengan alasan darurat, vaksin diperbolehkan. sekarang, tergantung

anda!

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari memperoleh data bahwa diperkirakan lebih dari 30 ribu anak meninggal setiap tahun

karena kompilasi campak. ini berarti satu anak meninggal tiap 20 menit. sebenarnya, penyakit ini dapat dicegah dengan

imunisasi campak. "imunisasi campak yang diberikan bersama imunisasi rutin dapat menurunkan angka kematian akibat campak

hingga 48 persen," terang Siti. sayangnya masih ada orang tua yang menolak vaksinasi. sebagian dari mereka khawatir efek

samping yang ditimbulkan, namun alasan lain yang mengemuka adalah masalah kehalalan bahan imunisasi.

kekhawatiran ini beralasan, karena Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI)

sendiri telah menemukan bahan haram dalam vaksin. namun, Menkes punya pandangan lain. menurutnya, MUI telah mengeluarkan

fatwa yang membolehkan vaksin karena alasan darurat. selama belum ditemukan pengganti tripsin babi sebagai media pembuatan

vaksin, vaksin ini dibolehkan.

–Babi pada Polio–

seluruh vaksin yang beredar di dunia saat ini, termasuk vaksin meningitis yang diberikan kepada seluruh jemaah haji dibuat

dari bahan haram. di antara bahan itu adalh enzim babi, ginjal kera, ginjal babi, hingga janin bayi hasil aborsi.

Depkes kemudian meminta Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ (MPKS) untuk menyelidiki hal ini. MPKS kemudian mengundang

PT Bio Farma dan Aventis untuk meminta penjelasan mengenai proses pembuatan vaksin polio yang mereka lakukan. dari situ

terbukti bahwa tripsin babi memang digunakan dalam pembuatan vaksin polio, "begitu juga dengan vaksin meningitis yang

diproduksi oleh Glaxo Smith Kline untuk para jemaah haji," ujar Jurnalis. ketika perusahaan2 besar ditanya alasan penggunaan

tripsin babi, mereka menjawab, "kami tidak pernah memikirkan (masalah) itu. di mana2, di dunia ini, ya pakai enzim babi. alau
mau diganti dengan enzim sapi butuh penelitian sekitar lima tahun dengan biaya besar."

–Sedang diupayakan–

sejak tahun lalu PT Bio Farma tengah berupaya mengganti bahan pembuat vaksin dengan bahan lain. penelitian telah dilakukan

selama tiga tahun. namun, selama belum menemukan hasil, menurut Direktur Pemasaran PT Bio Farma, bahan tripsin babi tetap

digunakan, termasuk untuk vaksin campak.

menurut Jurnalis, tripsin babi bukanlah bahan baku vaksin, namun dipakai sebagai enzim proteolitik (katalisator pemisah

sel/protein)

(sebenernya dijelasin secara bertahap cara pembuatan vaksin ini. tapi karena panjang, jadi gak gw tulis, hehehe…)

sebenarnya dalam setiap tahap amplifikasi sel, tripsin harus dicuci bersih karena akan menyebabkan gangguan saat sel vero

menempel pada mikrokarier. lewat pencucian atau pemurnia ini, produk vaksin yang dihasilkan bersih dari sisa tripsin. selain

itu, tripsin hanya dipakai sebagai bahan penolong dalam proses pembuatan vaksin.

———————————————-

berikut cuplikan wawancara antara Hidayatullah dan KH Ma’ruf AMin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI (halaman 23)

H: apa benar vaksin yang diedarkan tahun lalu terdapat unsur haram?
M: vaksin yang dipakai untuk imunisasi polio tahun lalu memang terdapat unsur haram (karena mengandung porcine/tripsin babi)

H: lalu, tanggapan MUI saat itu?
M: kalau (bahan babi itu) memang ada penggantinya, kita tidak akan izinkan. tapi menurut Dep Kes (pengganti itu) tidak ada.

yang ada hanya bahan itu. apabila yang sepenuhnya halal tidak ada, tidak ada alternatif, padahal polio itu sangat berbahaya

dan bahanya cukup besar, maka kita menyatakan itu boleh karena darurat

H: apa maksudnya boleh karena darurat?
M: zat itu (tripsin babi) tetap haram, tapi diperbolehkan karena kondisi darurat

H: apakah ini berarti vaksin menjadi halal?
M: kita tidak menghalalkan yang haram. sementara kita gunakan yang haram karena darurat. sampai sekarang belum ada (vaksin)

yang halal untuk polio. karena ini darurat, ya kita pakai. begitu juga dengan (vaksin) campak

H: apakah depkes sudah meminta fatwa MUI tentang vaksin campak?
M: perasaan saya belum. untuk campak, kita belum membuat apa2

H: bagaimana dengan penggunaan ginjal kera dan janin bayi hasil aborsi sebagai media pebiakan virus untuk vaksin?
M: iya, itu ya haram. itu memang tidak diperbolehkan.

H: apa pertimbangan MUI menyatakan kedaruratan masalah ini?
M: pressentasi dari depkes memang menakutkan kalau itu dibiarkan. polio merupakan bahaya. yang katanya darang fari sudan ke

jeddah, lalu ke sukabumoi, terus menjalar ke mana2. bahaya polio sedemikian mengancam, generasi kita akan menjadi generasi

polio kalau tidak divaksinasi

H: apakah ada rekomendasi yang MUI berikan kepada pemerintah?
M: kita minta pemerintah mengupayakan obat (vaksin) yang sepenuhnya halal. jadi, ini hanya untuk sementara

H: bagaimana dengan hadits Rasulullah saw yang menyatakan Allah tidak menjadikan obat dari yang haram?
M: itu kan kaidah umumnya. tapi, kalau yang ditemukan baru yang haram dan juka tidak ditanggulangi akan menimbulkan

kesulitan, terpaksa kita gunakan. ini untuk sesaat saja. hanya untuk sementara saja. agama memberikan keluasan, kemudahan,

ketidaksempitan. dalam keadanan seperti ini bisa diperbolehkan. soal zat (tripsin babi), tetap haram, tapi diperbolehkan

karena kondisi darurat. dalam hal makanan juga demikian. kalau tidak ada yang bisa dimakan pada saat itu kecuali yang haram,

maka diperbolehkan. famanidh thirro ghairo baaghin wa laa’aadiin falaa itsma ‘alaihi (barangsiapa dalam keadaan terpaksa

sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. QS al-Baqarah: 173)

H: bagaimana dengan orang tua yang menolak anaknya divaksinasi
M: seharusnya tidak menolak. sebab, menurut depkes, kalau ada yang terkena polio, dampaknya akan luas sekali/ penyakit itu

akan menyebar. usaha yang dilakukan pemerintah menjadi tidak berguna

H: kabarnya ada perusahaan farmasi swasta yang meminta sertifikat MUI untuk vaksin yang mereka produksi
M: memang ada, tapi kami tidak mai memberikan. karena vaksin itu hanya bisa dipakai kalau yang meminta adalah pemerintah,

dalam hal ini depkes. kalau swasta, nanti malah banyak yang minta

H: mengapa demikian?
M: kita tidak mau meproduksi obat-obatan (haram) seperti itu. itu hanya karena darurat. kalau swasta, tidak jelas digunakan

untuk apa. apa untuk jualan? kita tidak memberikan izin untuk jualan. (ini) hanya untuk keperluan darurat yang diperlukan

pemerintah.

———————————————-

untuk lebih jelasnya, beli aja majalah Hidayatullah edisi itu :)

selamat mencari kebenaran

October 5, 2007

UGreen (Part 3)

Filed under: ku lihat dunia - Administrator @ 4:15 am

jadi bagian dari UGreen, dengan segala sejarah perjalanannya, bikin gw punya memori tentang belajar menjadi seorang pemimpin, belajar menjadi seorang teman, belajar menjadi seorang pemikir, dan belajar menjadi seseorang. mendengar, bicara, berbuat, ataupun diam, nentuin gimana akhirnya gw sekarang. proses pembelajran yang menurut gw gak singkat, bikin gw seenggaknya memiliki bentuk yang unik dari orang lain.

moga UGreen terus maju, dan moga gw bisa terus belajar dan belajar demi kehidupan gw sendiri dan juga lingkungan gw yang lebih baik.

elektro??? biarlah elektro jadi lahan gw belajar secara akademis aja deh, karena emang itu yang gw dapet dari ke-elektro-an gw, hehehe…

menwa??? gw bertekad gak akan ke menwa sebelum gw laangsing lagi, hooohohohoho… gw gak betah dengan sindiran tentang bentuk badan gw yang ‘terlalu subur’ ini :p

yu’ ah, mo jumatan heula

UGreen (Part 2)

Filed under: ku lihat dunia - Administrator @ 4:14 am

gw ngerasa punya ikatan kuat sama unit ini, karena itu tadi, gw jadi salah satu orang yang memasang pondasi awal UGreen. alhasil waktu hari minggu kemaren ada acara buka puasa STEI (u know lah, itu loh, persatuan antara jurusan elektro dan informatika…), gw lebih milih ngumpul bareng UGreen, wlo gw akuin, ternyata acaranya gak cukup meriah dan mengarah pada kondisi m.e.m.b.o.s.a.n.k.a.n.!!!
 
udah 2 kali UGreen ngadain acara perekrutan anggota, tahun kemaren sama tahun ini. tahun ini kerasa lebih ‘wah’ karena kami (anak2 UGreen) sempet dibikin ‘panik’ karena pas OHU, orang yang ngedaftar UGreen sampe 500an orang!!! wuuuiiiihhhh…. dan pas acara kumpul perdana, orang yang dateng sampe 100an orang lebih!!! dengan keadaan defisit anggota, akhirnya kami2 jadi kewalahan sangat!!! hoooohohohohoho, ada rasa bangga, tapi ada rasa takut juga di dalem diri gw. bangga karena ternyata banyak juga yang punya perhatian ke lingkungan; takut karena mengemban amanah yang ‘begitu besar’ buat bikin para anggota baru jadi kader yang siap untuk mengurus lingkungan.

sekarang, setelah lebih dari satu tahun ada di unit ini dengan segala senang dan susahnya, gw ngerasa jadi serasa ’sepuh’, dalam artian sebenernya dan juga dalam artian yang gak sebenernya (maksudnya???????). mengemban tugas sebagai SekJen lapangan selama masa SEMUD 2007, bikin gw harus menjelma jadi sosok yang terlihat bijaksana dan berwibawa. bahkan sampe harus berubah jadi orang yang berbeda dari kebiasaan harian, hehehe… untungnya, menurut gw, peran gw cukup berarti dan berhasil di situ. seenggaknya calon anggota baru mau dengerin apa yang gw omongin. hhhhmmmm, pengalaman yang sangat menarik neh :p

selain di depan calon anggota baru, di dalem UGreen sendiri gw ngerasa udah sepuh. bayangin aja, gw adalah angkatan 2004, yang taun ini adalah tingkat 4 masa kuliah gw. anggota  UGreen yang lain kebanyakan anak 2006 (karena yang angkatan 2005 kurang sering terlihat dan yang angkatan 2004 udah banyak yang ilang gak tau ke mana) yang 2 tahun lebih muda dari gw, yang baru aja masuk ke jurusan mereka, yang nampaknya baru aja lepas dari dunia SMA mereka (karena gw dan beberapa temen2 gw berkeyakinan klo tahun pertama di ITB sama kayak tahun keempatnya SMA, hehehe… ^^’). kondisi kayak gini bikin gw jadi ngerasa, ‘hey, gw ini kakak dan contoh mereka’, woooowwwwww, tiba2 gw ngerasa ada sensai aneh di diri gw :) ) sensasi yang bikin gw ngerasa, ‘wah, gw ngerasa jadi penting neh, hehehe…’.

UGreen ke depan, diliat dari calon anggota yang sekarang, nampaknya bakal jadi lebih tidak berwarna, tapi mungkin masih lama buat nentuin ‘warna asli’ mereka, karena masih sangat mungkin UGreen bakal terus mencari identitas dirinya yang sebenernya.

UGreen (Part 1)

Filed under: ku lihat dunia - Administrator @ 4:11 am

hhhhhh, berhubung lagi miskin ide dan memang terasa lagi sulit memeras ide, akhirnya gw bercerita tentang UGreen aja deh, hehehe…

UGreen, tempat di mana gw ngerasa ada di dunia ini (haduh bahasanyaaaaaa….). karena di sini ini nampaknya gw bisa mengaktualisasikan diri gw (entah deh, ini bahasa gaulnya apa ^^’). di sini gw merasa berperan dan ‘dilihat’. coba kita bandingkan dengan keberadaan gw di jurusan gw sendiri, teknik elektro: gw bukanlah anak himpunan (yang menyebabkan gw jarang bergaul dengan anak EL kebanyakan), gw juga bukan orang yang menguasai ilmu di bidang gw (alhasil jarang sekali gw ditanya masalah mata kuliah, tapi gw jadi banyak bertanya, sayangnya hanya ke sedikit orang ^^’), hal2 tadi bikin gw males buat kumpul2 elektro (yang akhirnya makin menyamarkan keberadaan gw di elektro…), terakhir mungkin karena ada UGreen yang bisa bikin gw jadi lebih terhibur (ooooooo….what a sad story…, nggak dink :p).

okeh, sudah cukup dengan perbandingan!!! saatnya bercerita tentang UGreen:

UGreen, apakah itu??? hhhhmmmm, secara garis besar, ini adalah unit yang bergerak di bidang PENDIDIKAN LINGKUNGAN. jadi perlu ditekankan kalo UGreen gak hanya berhubungan langsung dengan lingkungan, tapi juga bergerak dari belakang untuk menciptakan kader2 yang siap untuk mengurus lingkungan. wah wah wah, nampaknya tinggi juga nih misinya. benarkah?? yah, seenggaknya itu hasil pemikiran gw yang ‘baru’ 1 tahun sekian bulan jadi anggota UGreen. emang masih membingungkan UGreen ini. cukup beralasan sih, karena emang unit ini masih sangatlah ‘hijau’ (tapi janganlah berharap UGreen jadi berubah warna, karena dapat menyebabkan perubahan nama yang tidak diharapkan menjadi UBlue, URed, UBlack, UMild, UM (MU maksudnya :p) atau U-U yang lainnya!!! maka biarkanlah UGreen tetap menjadi hijau). unit ini didiriin tepatnya tanggal 16 agustus 2007 oleh segerombolan mahasiswa ITB dari berbagai jurusan yang merasa sama2 memiliki perhatian yang lebih terhadap lingkungan (dan ternyata gw gak termasuk di dalamnya, karena gw ikut UGreen gara2 diajakin temen gw yang ternyata pada akhirnya si teman itu gak jadi ikut UGreen, heeeehehehe…). asal muasal para anggota ini melahirkan segala bentuk idealisme yang beragam dan bahkan terkadang terlalu berlainan. UGreen jadi terlihat seperti ‘pelangi’, dengan banyak warna yang belum padu. salah satu pertempuran idealisme yang muncul di UGreen adalah pas waktu mo dibuat AD ART. gw dipilih jadi ketua penyusunan AD ART ini. memang mengerikan yang namanya ‘brain storming’ itu… pusaran pemikiran yang saling berbeda arah menyebabkan ruang diskusi jadi terasa kacau (walah walah bahasanya…). gw yang kurang pengalaman berorganisasi jadi bingung dan terkadang nge-hang, hehe.. tapi setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya lahirlah AD ART UGreen yang gw juga lupa kapan tepatnya momen itu, hehe…

demikian sekilas tentang asal muasal UGreen. tadi sebenernya pengen sekedar menggambarkan betapa berwarnanya UGreen ini ^^’

October 3, 2007

Short Story (bahkan gw pernah bikin tulisan kayak gini!!!!)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 6:01 pm

Willy: Hi man!

Rocky: Hey, the Cowboy is here. He thinks that he is a hero, but he is just a chick!

Willy: Wow, what’s up? Why you say like that? Have I done anything wrong?

Rocky: Don’t be a foul! Too much wrong thing you have done! Are you forget that you have made my sister sad and hurt? You broke with her when she’s pregnant.

Willy: No! Not me. I didn’t do anything with your sister. I swear by god!

Rocky: Don’t be lie. I know that you did it with my sister. She told it to me. My sister never lies.

Erick: But now she is lie. Willy didn’t do anything. I did it.

Willy: See, I didn’t do anything. I’m clean.

Rocky: Shut your mouth!! I don’t believe you. You just want protect him.

Erick: No, I’m serious! Last month I went to your sister’s house. I just wanted to give her book back. But she’s drunk. And… It’s happened. I slept with your sister.

Rocky:    You bastard!!!!

Einstein (cerita yang menurut gw, lugu banget!)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 6:00 pm

Aku punya seorang teman, namanya Einstein, tapi jangan dulu berpikir kalau dia itu sepintar Einstein. Dia hanyalah seorang anak laki-laki yang, yah… bisa dibilang standar ke bawah lah. Kami berteman baik sejak masih tingkat satu. Dulu dia dikenal sebagai anak yang sangat penakut. Dia bahkan dapat menangis melihat bayangannya sendiri. Badannya kurus dan mukanya terlihat sangat memelas. Ditambah dengan kacamata besarnya, mukanya seperti memancing anak-anak di daerah ini untuk mengganggunya. Terutama si Bolly dan Willy, The Two Towers, dua kakak beradik tetangga kami yang berwajah garang dan bertubuh besar, sering mengganggu dan menjailinya. Ketika Einstein menangis menghadapi perlakuan kedua bersaudara itu, nampaknya ia justru membuat suatu kesalahan besar. Karena, saat itulah sepertinya The Two Towers makin menjadi-jadi mengusili Einstein. Aku, sebagai satu-satunya teman Einstein, memang seharusnya ikut menolongnya. Tapi, aku ini, yang hanya memiliki ukuran tubuh yang standar, hanya bisa melongo dan menanti sampai mereka puas menjahili Einstein. Jangankan meolong, tidak ikut diikutsertakan dalam permainan itu saja aku sudah bersyukur. The Two Towers baru berhenti apabila Nyonya Wilson, ibu Einstein, datang sambil membawa sapu dan bersiap siap menghajar siapa saja yang berani mengganggu anaknya. Nyonya Wilson memang sangat sayang kepada anaknya yang semata wayang itu.

Walaupun sering diperlakukan tidak baik Einstein selalu bersikap ramah dan baik kepada orang lain. Aku juga yakin kalau dia tidak memiliki sedikitpun perasaan untuk membalas dendam kapada mereka yang menjahilinya. Pernah suatu hari ketika dia berniat menolong Tuan Edward untuk membawa barang belanjaannya, dia justru mendapat makian dan cemoohan dari laki-laki beralis tebal dan berkumis panjang itu. Einstein hanya dapat diam lalu pergi sambil menangis. Akulah orang pertama yang menghiburnya ketika dia sedang bersedih. kees

Ketika kami sama-sama duduk di kelas delapan ia mengatakan padaku bahwa ia ingin menjadi kuat dan pintar agar dihormati orang lain. Memang bukan keinginan yang mudah untuk dicapai oleh anak seperti dia, namun sebagai temannya aku akan selalu  mendukungnya. Mulai hari itu dia berusaha untuk mencapai cita-citanya. Dia mulai belajar karate dan latihan kebugaran. Mengambil kursus bahasa Jepang dan Perancis. Tapi malang, baru dua minggu berjalan dia sudah mengeluh. Dia mulai bosan dan merasa bahwa apa yang dia lakukan selama ini tidak ada gunanya. Dia mulai memaki dan menyalahkan dirinya sendiri. Tapi aku berusaha membujuknya untuk tetap bertahan dan berjuang agar keinginannya dulu dapat tercapai. Aku katakan bahwa putus asa hanya dimiliki oleh seorang pengecut, dan terus berusaha hanya dimiliki oleh seorang pemenang. Mendengar apa yang ku katakan itu dia kembali bersemangat. Dia memelukku dan mengucapkan terima kasih atas semua dukunganku.

Hari berganti hari dan waktu terus berjalan. Aku melihat perubahan luar biasa pada diri Einstein. Badannya mulai terlihat besar dan kekar, bacaannya bukan lagi komik atau majalah anak-anak, melainkan novel, novel berbahasa Perancis ataupun Jepang !!, tapi dia tetap ramah dan baik pada semua orang. Perubahan itu tidak membuat Bowi bersaudara untuk berhenti mengganggu Einstein. Hingga suatu hari ketika mereka mau melakukan aksinya, mereka mendapat hadiah tinju keras ditambah tendangan maut milik Einstein. Mereka lari tunggang langgang tanpa mempedulikan celana mereka yang tertinggal. Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani mengganggu Einstein. Mereka mulai menerima dan menghormatinya.

Hal yang paling aku banggakan darinya ialah, karena dia mampu mencapai keinginannya dengan usaha kerasnya sendiri. Karena pada dirinya terdapat semangat yang sangat besar yang mampu mengubah suatu kemustahilan menjadi suatu yang mungkin. Dan satu lagi, dia tidak mengubah posisiku dalam daftar nama teman-temannya. Aku masih di urutan pertama!.

My lovely Nadya (gw yakin, ini juga tulisan gw!!! :D)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 5:59 pm

Suatu hari aku lagi asik ngliatin foto seseorang yang very special. Namanya Nadya, temen sekelasku. Orangnya pendiam, manis, cantik, ramah, and pintar. Pokoknya, semua yang aku suka ada di dirinya. Aku kenal dia baru ketika kami sekelas di kelas IPA 3. Pertama kali aku liat dia, aku langsung suka. Hari pertama masuk sekolah kerjaanku cuma ngeliatin dia. Kalo misalnya ada yang nyuruh aku ngeliatin dia seharian, aku yakin, aku pasti kuat.

Suatu hari ada tugas kelompok Biologi, dan kami sekelas disuruh buat bikin kelompok kerja. Kelas kami dibagi menjadi lima kelompok. Dan kamu pasti udah bisa nerka, aku satu kelompok sama Nadya. Deg..deg… aku langsung kegirangan, tapi cuma di dalem hati. Malu dong kalo ketawan yang lain. Sehari setelah diberi tugas itu kami langsung mulai kerja. Eh.. gak disangka lo, ternyata walaupun pendiem, dia itu enak juga diajak ngobrol. Kalo aku ngobrol sesuatu sama dia, pasti bisa nyambung. Mulai dari musik, olahraga, sampe novel, dia ngerti semua. Emang bener-bener cewek idamanku. Klo kami udah ngobrol, dunia serasa milik kami berdua. Tugas Biologi pun kadang-kadang jadi terlupakan.

Mulai hari itu kami makin akrab. Aku sering nelpon ke rumahnya. Basa basi nanya PR, pelajaran, atau sekedar ngobrol biasa. Gak cuma aku aja yang nelpon, dia juga mulai suka nelpon aku. Untungnya kami tau diri, jadinya kalo nelpon pun, kami gak pernah lebih dari lima belas menit. Aku jadi makin suka sama dia, tapi dia gak tau klo aku itu sebenernya suka ama dia, soalnya aku gak pernah sekalipun nyoba buat ngomong ke dia. Sebenernya aku pengen ngomong kalo aku itu sebenernya suka sama dia, tapi aku takut nanti jadinya malah persahabatan kami retak. Dia juga pernah ngomong kalo dia itu gak bakalan pacaran sampe dia udah lulus kuliah. Itu tekad dia, yang sekaligus buat aku ciut. Lama emang. Kami baru kelas 3 smu, dan aku sadar kalo kami itu masih terlalu kecil buat menjalin janji, masih labil, masih bau kencur, and masih gampang kebawa emosi.

Ebtanas tinggal satu bulan lagi, itu artinya gak lama lagi aku and Nadya harus pisah. Sedih rasanya harus pisah sama orang yang bener-bener aku sayangin. Dia pernah bilang setelah lulus smu ini dia mau ngelanjutin kuliah di Bandung, tempat asalnya. Sedangkan aku paling gak jauh-jauh dari Yogyakarta ini, kota di mana aku dilahirkan. Itu berarti sebulan atau dua bulan lagi kami akan berpisah, sambil dibatasi oleh jauhnya Bandung dan Yogya. “Namanya juga hidup, kalo ada pertemuan pasti ada perpisahan”, cuma itu yang biasanya aku katakan buat menghibur diriku sendiri.

Satu bulan pun berlalu, dan saat itu pun akhirnya tiba juga, saat di mana kami harus berpisah. Setelah sekian lama kami berteman, dan sekian lama juga aku memendam perasaanku ke Nadya, akhirnya kami harus berpisah. Tapi sebelum kami berpisah, sehari sebelum Nadya pindah ke Bandung, ada kekuatan, yang entah dari mana asalnya, memaksa aku supaya ngomong ke Nadya tentang apa yang ada di dalam hatiku ini. Seperti tanpa kendali, ketika seharusnya aku mengucapkan kata-kata selamat tinggal, justru kata-kata yang gak pernah aku bayangin bakalan keluar akhirnya justru aku ungkapin, “Aku suka kamu”. Dan ketika itu, aku bisa dengan jelas melihat muka Nadya yang terkejut mendengar tiga buah kata yang baru keluar begitu saja dari mulutku. Bagaimana pun aku harus mengatakannya, dan aku udah siap untuk menghadapi segala konsekuensinya. Tapi, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, dia akan marah, nangis, and akhirnya persahabatan kami retak, tapi aku malah melihat senyumnya yang manis menghiasi wajahnya yang dari dulu memang sudah terlihat cantik. Sambil tersenyum dia bilang, “Sebenernya aku juga udah lama suka sama kamu, aku suka sama sikap kamu yang selalu baik sama semua orang, tapi aku takut kalo mau ngungkapin perasaanku ini. Aku takut persahabatan kita justru terganggu. Tapi setelah mendengar kata-kata kamu tadi, aku jadi berharap semoga kita akan bertemu lagi di lain waktu. Dan ketika itu, kita berdua udah sama-sama  besar, dan udah sama-sama bisa mengontrol emosi kita masing-masing. Dan saat itulah aku akan mulai untuk menerima cintamu. Tapi, jangan tutup diri kamu untuk orang lain, yang mungkin jauh lebih mencintai kamu daripada aku, dan aku pun pasti akan begitu”.

 

***

 

Aku pasti akan tersenyum begitu ingat peristiwa masa laluku itu. Tak terasa sudah hampir lima belas tahun berlalu semenjak perpisahan kami. Kini aku telah memiliki keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Seorang istri yang cantik, yang selalu mengerti bagaimana aku ini, dan selalu dapat meredam gejolak emosiku yang kadang-kadang tidak terbendung. Tapi, dia bukan Nadya yang dulu pernah aku sayangi. Dia adalah Wanda, teman kuliahku. Aku belajar dari kata-kata Nadya, dan mulai mencoba untuk mencintai orang lain, dan nampaknya Wanda telah berhasil meluluhkan hatiku ini, membuatnya dapat menggantikan Nadya dalam hatiku. Tapi, bagaimana pun juga Nadya akan tetap ada di dalam hatiku, dan selalu menghiasi kenangan manis masa remajaku.

DIVA (kayaknya cerpen pertama deh…)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 5:57 pm

Aku punya sebuah cerita. Ceritanya tentang seorang cewek lugu dan ramah, tapi itu sebelum perubahan yang dibuatnya sendiri. Namanya Diva. Diva itu bukan teman, pacar, atau saudaraku. Diva cuma gambaran seorang manusia yang buta, cuma gara-gara cinta.

 

Diva itu pendiam, tapi pintar. Nggak gampang bergaul, tapi enak kalo diajak ngobrol. Serius, tapi tetap murah senyum. Diva paling suka baca buku, atau menulis. Nulis apa aja, mulai dari cerpen sampai cerjang. Tampangnya gak begitu jelek, walaupun dihiasi kacamata minus empatnya. Giginya yang kurang rapi tampaknya lebih bagus kalo dipasang kawat gigi. Tapi Diva memang cewek yang gak begitu mikirin penampilannya, Diva gak peduli sama kritikan teman-temannya.

Di balik sifatnya yang pendiam itu, ternyata Diva punya  perasaan yang udah lama dia pendem sendirian, gak pernah Diva ungkapin ke siapapun, termasuk ke buku diary-nya –soalnya dia memang gak punya-. Diva lagi seneng sama seorang cowok ganteng temen sekelasnya. Namanya Ridwan. Ridwan itu emang banyak yang seneng. Gimana enggak, muka lumayan, pinter nge-basket, maen gitarnya udah kayak Santana, suaranya kayak Fadly, baik lagi orangnya, pokoknya dia itu cowok impiannya Diva deh. Ridwan sebenernya udah lama jadi temen Diva. Tapi Diva baru ngerasa sesuatu pas pertama kali ngeliat Ridwan main gitar sambil nyanyi waktu ada acara piknik di sekolahnya. Waktu itu Diva sama sekali gak bisa kedip ngeliat Ridwan ngegitar. “Keren, cool….”, kata Diva dalam hati. Sejak itu Diva jadi seneng ngobrol sama Ridwan. Diva  baru sadar kalo temennya itu ternyata enak diajak ngobrol. Tapi Diva malu kalo ngobrol sama Ridwan, Diva gak pernah natap muka Ridwan. Diva ngerasa mukanya jeleeek banget kalo ada di deket Ridwan.

Sejak Diva suka sama tu cowok, Diva mulai merhatiin penampilannya. Kalo sebelumnya Diva jarang ngaca, sekarang Diva paling lama kalo udah ada di depan kaca. Tapi bukannya sibuk muji dirinya, tapi justru Diva sibuk maki-maki dirinya sendiri. “Dasar jelek!”, itu ucapan yang sering keluar dari mulut Diva buat dirinya sendiri. Diva mulai nyoba ‘ngebenerin’ mukanya. Diva beli semua obat perawatan muka, dari yang murah sampe yang mahal. Ibunya sih malah seneng, soalnya emang udah dari dulu ibunya pengen ngeliat anaknya jadi cakep. Jadi gak masalah kalo Diva jadi boros gitu. Lagian makin hari emang Diva makin ‘mendingan’. Kacamatanya udah diganti lensa kontak, giginya juga udah dipasang kawat gigi. Jerawatnya udah transmigrasi gak tau ke mana.

Tapi sayang, sejak penampilan Diva berubah sifatnya juga mulai berubah. Pelajaran pun Diva udah gak merhatiin. Yang ada di benaknya cuma, “bagaimana supaya Ridwan suka sama gue”. Keluguan dan keramahannya juga mulai hilang. Diva mulai suka dengerin musik, nonton konser bareng temen-temen barunya, dan pelan-pelan mulai ninggalin temen lamanya. Termasuk best friend nya sendiri, si Alvin. Padahal Alvin lah orang pertama yang jadi temen Diva waktu mereka pertama kali masuk SMU. Mereka suka ngerjain P R bareng, diskusi, atau ke perpustakaan buat baca buku sastra yang tebelnya bisa lebih dari 10 inchi!. Tapi sekarang, Alvin jugalah orang pertama yang benci sama perubahan yang terjadi sama Diva. Mereka udah gak pernah lagi ngerjain P R bareng, diskusi, apalagi ke perpustakaan bareng. Walaupun benci tapi Alvin gak pernah mau ngomongin masalah itu ke Diva. Alesannya Alvin gak mau Diva sakit hati. Yah, namanya juga best friend.

Sekarang Diva udah keliatan nyaris sempurna. Mukanya udah 180 derajat beda dengan mukanya 5 bulan yang lalu. Selama 5 bulan Diva berjuang keras ngerubah mukanya, 5 bulan Diva mulai jauh dari Alvin, 5 bulan itu juga Diva gak peduli sama pelajaran di sekolah. Ibunya yang sebelumnya seneng ngeliat anaknya tambah caem, sekarang mulai khawatir. Diva jarang belajar, jarang telpon-telponan lagi sama Alvin, dan mulai suka ngabisin waktunya sambil dengerin radio atau baca majalah Hai, Gadis atau Kawanku, yang rutin tiap bulan beredar.

Diva yang sekarang bukan lagi Diva 5 bulan yang lalu, bukan lagi Diva yang ramah, lugu, dan pintar, tapi udah berubah jadi Diva yang cantik dan gaul, tapi sombong dan males. Sekarang Diva udah berhasil ngerubah mukanya, dan sekarang Diva mulai gencar ngedeketin Ridwan, cowok idamannya. Diva sering nelpon ke rumahnya. Tapi anehnya Ridwan juga mulai berubah. Ridwan jarang mau ngobrol sama Diva, paling-paling kalo terpaksa aja dia baru mau ngomong. Diva jadi heran, “apa yang kurang dari gue? muka gue kan sekarang udah cantik”.

Suatu hari Diva punya niat buat nelpon ke rumah Ridwan, Diva mau nanya soal berubahnya sikap Ridwan akhir-akhir ini. Diva ngangkat gagang telepon dan mulai memencet tombol-tombol telpon. Selang beberapa detik kemudian di seberang sana telpon diangkat. Pas waktu itu Ridwan yang ngangkat:

“Hallo, Ridwan ya?”, Diva langsung kenal suara Ridwan

“Ya. Ada apa?”, jawab Ridwan dengan nada males

“Enggak, aku lagi pengen aja nelpon kamu”,

“Sori nih, aku lagi sibuk”, kata Ridwan cuek

“Kamu kenapa sih, marah ya sama aku?”

“Enggak, aku lagi males ngobrol aja”

“Kamu bohong. Akhir-akhir ini kamu kayak ngehindarin aku. Kamu udah gak kayak dulu lagi, kamu udah gak mau temenan lagi sama aku ya?”, kata Diva sambil manyun

“Sebenernya aku yang mau nanya ke kamu. Kamu yang akhir-akhir ini berubah, kamu udah gak kayak kamu yang dulu, udah gak lagi ramah, gak murah senyum. Kamu juga mulai lupa sama temen-temen kamu yang dulu. Alvin cerita sama aku kalo kamu udah gak mau ngobrol lagi sama dia”,

“Alvinnya aja yang gak mau gaul. Dia udah ketinggalan jaman”, kata Diva sewot

“Emangnya kamu kira kalo kamu udah gaul, udah bisa ngikutin mode, terus kamu jadi hebat, jadi yang nomor satu, seenaknya ngelupain temen-temen kamu. Enggak, kamu justru jadi orang yang paling bodoh di dunia ini, kamu gila penampilan sampe ngorbanin temen-temen kamu”, Ridwan sekarang jadi galak.      “Pokoknya aku gak mau ngobrol, atau bahkan ketemu kamu lagi, kalo kamu masih gak mau berubah, dan masih pengen mempertahankan kemodisan kamu. Semua pilihan ada di tangan kamu, terserah kamu, kamu mo pilih temen-temen mu yang ketinggalan jaman, atau kamu milih tetep modis dan ngorbanin temen-temen yang udah lama deket sama kamu. Sebenernya dulu aku suka sama kamu, sama keramahan kamu, sama keluguan kamu, dan semua yang kamu dulu punya, tapi sekarang kamu gak punya itu semua. Aku cuma pengen kamu sadar itu aja”, Ridwan langsung nutup gagang telepon, pura-pura gak peduli sama Diva yang udah sesenggukan di telpon. Diva langsung diem dan udah gak bisa ngomong apa-apa lagi, air matanya udah banjir ngebasahin baju Pokemon kesayangannya. Ridwan sebenernya gak pengen bikin Diva kayak gini, tapi demi kebaikan Diva, Ridwan terpaksa harus ngeluarin seluruh isi hatinya.

Pelan-pelan akhirnya Diva nutup gagang telepon juga, terus Diva nangis sekenceng-kencengnya, gak peduli kalo tetangganya pada bangun. Ibunya yang sedari tadi nguping lewat telpon di kamarnya, cuma bisa diem. “Biar Diva merenung sendiri dulu, besok baru Ibu akan ngomong ke Diva”, batin si Ibu.

Semalaman itu Diva terus nangis sambil gak habis-habisnya nyesel. Ternyata Ridwan gak kayak yang Diva kira. Ridwan gak kayak cowok rata-rata yang cuma merhatiin muka dan body. Ridwan ternyata juga merhatiin hati dan kelakuan Diva. Diva juga sekarang inget kalo Diva ternyata punya temen sejati yang selama 5 bulan ini Diva cuekin. Setelah Diva mencerna semua kata-kata Ridwan tadi dan mencoba-coba untuk nginget hal-hal manis yang selama ini Diva  lewatin sama Alvin. Diva mulai sadar kalau Alvin lah yang selama ini ada di dekatnya dalam suka dan duka. Alvin ikut seneng kalo Diva seneng, Alvin yang ngebangkitin Diva kalo Diva lagi sedih. Diva mulai ngerasa bersalah banget sama Alvin, dan juga Ridwan.

Detik itu juga Diva ngeberaniin diri buat nelpon Alvin, dia gak peduli kalo nanti Alvin marah, yang penting dia sekarang mau minta maaf ke Alvin, dan mau ngebenerin persahabatannya lagi sama Alvin.

Gak kerasa Diva dan Alvin udah beberapa jam ngobrol di telpon. Gak kayak yang Diva duga, Alvin sama sekali gak nunjukin rasa bencinya dulu sama Diva. Alvin bersedia menampung semua unek-unek yang dikeluarin Diva saat itu. Air mata juga sudah sedari tadi ngebasahin pipi mereka berdua, walau kadang-kadang mereka ketawa bareng kalo inget sama kelakuan mereka dulu. Tampaknya Alvin memang bisa jadi seorang teman yang sejati.

“Maapin aku ya Lin, aku gak nyangka kalo kamu emang temanku yang paliiiing baik and perhatian sama aku”

“Gak apa-apa, yang penting kan sekarang kita bisa ngobrol lagi, trus bisa ngecengin cowok sama-sama, nonton konser sama-sama, and sekali-kali tetep ke perpus bareng”

Hah…? Diva jadi bingung, ternyata Alvin gak se-kuper yang dulu dia bayangin. Akhirnya mereka ketawa  sekeras-kerasnya. Ibu Diva yang ternyata masih ngupingin obrolan mereka dari tadi, jadi kepingin ketawa juga.

“Hi…hi…hi…., kayaknya Ibu udah gak usah ikut campur lagi masalah Diva. Dasar anak muda jaman sekarang!”

Ibu melirik jam tangannya, jam sekarang udah nunjukin pukul 23:45

 

#          #          #

 

Diva sekarang sadar kalo selama ini salah menilai arti sebuah cinta, cinta yang selama 5 bulan Diva coba berikan ke orang yang Diva sayangi, dan cinta yang telah diberikan sama orang yang selama ini mencintai Diva dengan tulus

MENARIK!!!!

Filed under: tentang diri - Administrator @ 5:55 pm

betul, menarik sekali!!! karena ternyata dimas dulunya adalah seorang penulis!!!! wah wah wah, gak nyangka deh gw…

jadi ceritanya gini, suatu malam di kota bogor, tepatnya hari rabu tanggal 3 oktober 2007 berlokasi di rumah bokap, gw lagi nyari foto2 nikahan gw. terus tiba2 gw melihat ada folder bernamakan ‘Dimas’ di salah satu drive. penasaranlah gw, apa ya kira2 yang tersimpan di dalamnya. gw bongkar deh tu isi folder. di dalamnya ternyata ada folder cerpen. wah, jadi inget klo dulu suka bikin cerpen2 yang bener2 pen(dek). gw tertarik dengan file ‘diva’, terus gw baca deh. gw senyum2 sendiri ngeliat tulisan gw, terasa polos dan apa adanya, dengan teknik menulis yang menurut gw masih sangat standar. yang ini gw yakin, ini emang tulisan gw, karena gw masih inget momen gw nulis cerita ini. setelah beberapa file gw buka, ada satu file bernama ‘inget’ yang ternyata berisi cerpen juga. setelah baca tulisan itu, secara spontan gw langsung bisa bilang, bagus juga ni tulisan, rapi dan terstruktur, enak pula dibacanya! ini yang menarik, selama gw baca tulisan ini, gw serasa akrab banget sama jalan ceritanya. gw mencoba mengelak, ini bukan tulisan gw, tapi ada memori di otak yang bilang, ini tulisan gw. sampe akhirnya dengan pedenya gw yakinin diri sendiri, ini bener tulisan gw!!!! heeehehehehehe….

yang bikin gw sangat heran, ternyata dulu gw udah bisa bikin tulisan kayak gitu!!! wah wah wah, handal juga neh gw! hehehe… tapi tetep, ada ketidakyakinan di diri gw klo ini tulisan gw sendiri. takutnya memori tentang ‘membuat suatu tulisan’ ketuker sama memori ‘membaca suatu tulisan’, jadinya tulisan yang gw baca serasa jadi tulisan yang gw bikin, aneh ^^’

any way, di postingan selanjutnya bakal gw copy-in lagi cerpen2 bikinan gw dari masa lalu. mohon tanggapannya ya, untuk sekedar jadi bahan masukan karena kali aja gw bakal rajin bikin cerita2 lagi. selamat menikmati ya!!! 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

-->
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service