semua orang mungkin punya ceritanya sendiri, sejarahnya sendiri. ada yang mencatatkan cerita sedih, bahagia, senang, susah, ataupun sengsara, lengkap dengan segala sensasinya.
4 januari 2008
pikiran kayak gini tiba2 muncul hari ini, bisa dibilang sebagai suatu bentuk permintaan maaf saya kepada Allah yang telah memberikan banyak hal buat saya dan orang2 terdekat saya namun seringnya malah gak saya syukuri.
hari ini adalah hari ke 2 UAS, setelah kemarin ternyata ada jadwal UAS yang salah saya catet. saya kira ujian tanggal 9 januari, eh ternyata yang bener 3 januari. kesalahan temen yang ternyata juga kesalahan saya. salah temen karena emang dia salah catet, dan salah saya karena gitu aja percaya tanpa cross ceck lagi. akhirnya kami sama2 sengsara, belajar baru 1 jam (!!!!!) sebelum ujian, hehehe…
hari ke 2 yang mo saya ceritain ini bagi saya sangat tragis, masih kena efek dari ujian ‘dadakan’ kemaren, alhasil ujian hari ini gak banyak persiapan, klo boleh dibilang hampir gak ada persiapan berarti!! sebenernya rencana menghadapi ujian hari ini dah jauh2 hari pas baru mulai liburan natal dan tahun baru, malah dah ngebagi waktu buat belajar 4 mata kuliah yang mo diujiin. malah UAS hari ini termasuk prioritas HIGH!!!
tapi apa mo dikata, rencana hanyalah rencana, kenyataan lain dari yang dipengenin… belajar cuma berjalan beberapa hari, sisanya jauh dari rencana!!
puncaknya ya hari ini, dengan persiapan seadanya, saya dan teman saya menghadapi ujian hari ini dalam keadaan yang, bisa dibilang, menyedihkan… kelewatan memang, karena kasus kayak gini dah sering banget nimpa saya.
yang bikin saya sedih adalah karena saya selalu aja lupa ’sensasi menyeramkan’ dari ujian tanpa persiapan yang cukup. alhasil saya serasa ‘gak kapok’ buat ngulang hal kayak gini. poor me…
tapi itulah, seperti yang saya tulis di atas, semua orang punya kisahnya masing2. dan mungkin saya masuk ke dalam kelompok pemilik kisah menyedihkan tentang kuliahnya: ngerasa salah jurusan karena gak eksis ^^’, mengulang banyak mata kuliah, melakukan kesalahan yang sama berulang kali, (mungkin) mencetak hatrick di mata kuliah SISTEM KOMUNIKASI OPTIK, dan lain sebagainya…
dan saat itulah saya merasa klo rasa syukur ternyata harus segera dipaksakan keluar, supaya segala kejengkelan, kesedihan, rasa frustasi, dan segala bentuk lain dari buruknya kondisi hati bisa ternetralisir. saya pun kemudian mencoba melihat lagi kisah bahagia saya hidup di bumi Allah ini:
.ternyata saya adalah seorang mahasiswa ITB, yang membuktikan bahwa saya lebih baik dari ratusan ribu orang lainnya
.ternyata saya adalah seorang suami dengan istri yang suangat hebat
.ternyata saya adalah seorang teman yang menyenangkan
.ternyata saya adalah seorang ayah dari anak yang akan segera lahir
.ternyata saya adalah seorang anak yang selalu mendapat limpahan doa tanpa henti dari orang tua saya
dan yang paling mendasar:
.ternyata saya adalah seorang manusia pilihan Allah yang dipercaya untuk hidup di dunia ini, di kala banyak anak yang meninggal sebelum lahir, sebelum sempat remaja, sebelum sempat merasakan kebahagiaan dan ‘tantangan’ yang saya rasakan sekarang ini
saya menangis…
merasa malu…
bukan saja karena sadar bahwa terlalu banyak kebaikan yang saya dapat, tapi juga karena ternyata saya masih belum bisa membuktikan diri bahwa saya layak mendapat semua kebaikan itu
saya pun kemudian berdoa:
"ya Allah, hilangkan lah rasa takut itui, dan gantilah dengan keberanian dan kekuatan,"
"ya Allah, hilangkan lah amarah itu, dan gantilah dengan ketegasan dan kasih sayang,"
"ya Allah, hilangkan lah kegundahan itu, dan gantilah dengan semangat dan rasa syukur kepada-Mu."
saya yakin, dan mengimani sekali, bahwa Allah Maha Berkuasa dan Maha Besar. yang saya tanyakan adalah, apakah saya mengingat hal2 itu ketika dihadapkan dengan segala kesulitan dan kesusahan?
ini adalah hal yang harus saya perbaiki, agar kelak saya bisa bercerita kepada anak saya tentang kisah seorang pejuang yang menjalani dan menghadapi kehidupan ini dengan tidak mudah, namun selalu memiliki tameng yang Maha Besar untuk menaklukkan segala rintangan.
–dedicated to you, Talitha Nada Salsabilla–
with love, dad