Vonis Yang Salah
dulu, bahkan mungkin masih sampai sekarang, saya selalu memvonis diri saya BURUK. vonis ini menyebabkan saya sulit untuk melakukan suatu kebaikan.
ketika saya melakukan suatu kebaikan, ada aja perasaan di dalam diri yang mengatakan bahwa ‘tidak seharusnya saya begini’ –perasaan yang entah dari mana datangnya…. perasaan2 semacam ini pada tingkatan yang menurut saya sudah kronis –yang sekarang sedang menimpa diri saya– sudah menyebabkan saya berpikir bahwa ’seharusnya saya melakukan sesuatu yang buruk’ (!!!). dengan melakukan hal yang buruk saya semakin membenarkan anggapan bahwa saya adalah buruk.
perasaan ini muncul, yang saya sadari, adalah karena selama ini saya terlalu ‘menghayati’ vonis2 bersalah yang dijatuhkan kepada saya oleh orang2 terdekat di dalam hidup saya. bukannya ingin menyalahkan orang lain, tapi saya ingin menyadarkan diri sendiri bahwa ada saat ketika perkataan saya adalah yang terbaik, bukan perkataan orang lain!
ada saat ketika saya harus menutup telinga rapat2 dari pandangan buruk orang lain, dan ada saat ketika seharusnya saya HARUS meresapi sedalam2nya pujian orang terhadap diri saya.
setelah menyadari hal2 tadi, sekarang ini yang menjadi tantangan terbesar bagi saya adalah mengatasi vonis2 yang dijatuhkan bukan oleh orang lain terhadap diri saya tapi justru vonis2 yang diberikan oleh diri sendiri. menjadi tantangan besar karena ketika sekarang ini ada orang lain yang menganggap diri saya rendah, dengan penuh keyakinan saya bisa bilang bahwa, "anda salah!", tapi ketika diri saya sendiri yang menganggap diri ini rendah, sulit untuk mengatakan, "anda salah!".
sekaranglah saatnya memfokuskan diri kepada kebaikan2 diri dan mulai melupakan keburukan2 diri, jika saya benar2 ingin memberikan yang terbaik untuk orang2 di sekitar saya.
saya harus mulai mengatakan, "I love myself", karena dengan begitulah saya justru bisa menunjukkan rasa cinta saya kepada orang2 di sekitar saya.
