ungkapan rasa ungkapan hati

October 3, 2007

Short Story (bahkan gw pernah bikin tulisan kayak gini!!!!)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 6:01 pm

Willy: Hi man!

Rocky: Hey, the Cowboy is here. He thinks that he is a hero, but he is just a chick!

Willy: Wow, what’s up? Why you say like that? Have I done anything wrong?

Rocky: Don’t be a foul! Too much wrong thing you have done! Are you forget that you have made my sister sad and hurt? You broke with her when she’s pregnant.

Willy: No! Not me. I didn’t do anything with your sister. I swear by god!

Rocky: Don’t be lie. I know that you did it with my sister. She told it to me. My sister never lies.

Erick: But now she is lie. Willy didn’t do anything. I did it.

Willy: See, I didn’t do anything. I’m clean.

Rocky: Shut your mouth!! I don’t believe you. You just want protect him.

Erick: No, I’m serious! Last month I went to your sister’s house. I just wanted to give her book back. But she’s drunk. And… It’s happened. I slept with your sister.

Rocky:    You bastard!!!!

Einstein (cerita yang menurut gw, lugu banget!)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 6:00 pm

Aku punya seorang teman, namanya Einstein, tapi jangan dulu berpikir kalau dia itu sepintar Einstein. Dia hanyalah seorang anak laki-laki yang, yah… bisa dibilang standar ke bawah lah. Kami berteman baik sejak masih tingkat satu. Dulu dia dikenal sebagai anak yang sangat penakut. Dia bahkan dapat menangis melihat bayangannya sendiri. Badannya kurus dan mukanya terlihat sangat memelas. Ditambah dengan kacamata besarnya, mukanya seperti memancing anak-anak di daerah ini untuk mengganggunya. Terutama si Bolly dan Willy, The Two Towers, dua kakak beradik tetangga kami yang berwajah garang dan bertubuh besar, sering mengganggu dan menjailinya. Ketika Einstein menangis menghadapi perlakuan kedua bersaudara itu, nampaknya ia justru membuat suatu kesalahan besar. Karena, saat itulah sepertinya The Two Towers makin menjadi-jadi mengusili Einstein. Aku, sebagai satu-satunya teman Einstein, memang seharusnya ikut menolongnya. Tapi, aku ini, yang hanya memiliki ukuran tubuh yang standar, hanya bisa melongo dan menanti sampai mereka puas menjahili Einstein. Jangankan meolong, tidak ikut diikutsertakan dalam permainan itu saja aku sudah bersyukur. The Two Towers baru berhenti apabila Nyonya Wilson, ibu Einstein, datang sambil membawa sapu dan bersiap siap menghajar siapa saja yang berani mengganggu anaknya. Nyonya Wilson memang sangat sayang kepada anaknya yang semata wayang itu.

Walaupun sering diperlakukan tidak baik Einstein selalu bersikap ramah dan baik kepada orang lain. Aku juga yakin kalau dia tidak memiliki sedikitpun perasaan untuk membalas dendam kapada mereka yang menjahilinya. Pernah suatu hari ketika dia berniat menolong Tuan Edward untuk membawa barang belanjaannya, dia justru mendapat makian dan cemoohan dari laki-laki beralis tebal dan berkumis panjang itu. Einstein hanya dapat diam lalu pergi sambil menangis. Akulah orang pertama yang menghiburnya ketika dia sedang bersedih. kees

Ketika kami sama-sama duduk di kelas delapan ia mengatakan padaku bahwa ia ingin menjadi kuat dan pintar agar dihormati orang lain. Memang bukan keinginan yang mudah untuk dicapai oleh anak seperti dia, namun sebagai temannya aku akan selalu  mendukungnya. Mulai hari itu dia berusaha untuk mencapai cita-citanya. Dia mulai belajar karate dan latihan kebugaran. Mengambil kursus bahasa Jepang dan Perancis. Tapi malang, baru dua minggu berjalan dia sudah mengeluh. Dia mulai bosan dan merasa bahwa apa yang dia lakukan selama ini tidak ada gunanya. Dia mulai memaki dan menyalahkan dirinya sendiri. Tapi aku berusaha membujuknya untuk tetap bertahan dan berjuang agar keinginannya dulu dapat tercapai. Aku katakan bahwa putus asa hanya dimiliki oleh seorang pengecut, dan terus berusaha hanya dimiliki oleh seorang pemenang. Mendengar apa yang ku katakan itu dia kembali bersemangat. Dia memelukku dan mengucapkan terima kasih atas semua dukunganku.

Hari berganti hari dan waktu terus berjalan. Aku melihat perubahan luar biasa pada diri Einstein. Badannya mulai terlihat besar dan kekar, bacaannya bukan lagi komik atau majalah anak-anak, melainkan novel, novel berbahasa Perancis ataupun Jepang !!, tapi dia tetap ramah dan baik pada semua orang. Perubahan itu tidak membuat Bowi bersaudara untuk berhenti mengganggu Einstein. Hingga suatu hari ketika mereka mau melakukan aksinya, mereka mendapat hadiah tinju keras ditambah tendangan maut milik Einstein. Mereka lari tunggang langgang tanpa mempedulikan celana mereka yang tertinggal. Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani mengganggu Einstein. Mereka mulai menerima dan menghormatinya.

Hal yang paling aku banggakan darinya ialah, karena dia mampu mencapai keinginannya dengan usaha kerasnya sendiri. Karena pada dirinya terdapat semangat yang sangat besar yang mampu mengubah suatu kemustahilan menjadi suatu yang mungkin. Dan satu lagi, dia tidak mengubah posisiku dalam daftar nama teman-temannya. Aku masih di urutan pertama!.

My lovely Nadya (gw yakin, ini juga tulisan gw!!! :D)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 5:59 pm

Suatu hari aku lagi asik ngliatin foto seseorang yang very special. Namanya Nadya, temen sekelasku. Orangnya pendiam, manis, cantik, ramah, and pintar. Pokoknya, semua yang aku suka ada di dirinya. Aku kenal dia baru ketika kami sekelas di kelas IPA 3. Pertama kali aku liat dia, aku langsung suka. Hari pertama masuk sekolah kerjaanku cuma ngeliatin dia. Kalo misalnya ada yang nyuruh aku ngeliatin dia seharian, aku yakin, aku pasti kuat.

Suatu hari ada tugas kelompok Biologi, dan kami sekelas disuruh buat bikin kelompok kerja. Kelas kami dibagi menjadi lima kelompok. Dan kamu pasti udah bisa nerka, aku satu kelompok sama Nadya. Deg..deg… aku langsung kegirangan, tapi cuma di dalem hati. Malu dong kalo ketawan yang lain. Sehari setelah diberi tugas itu kami langsung mulai kerja. Eh.. gak disangka lo, ternyata walaupun pendiem, dia itu enak juga diajak ngobrol. Kalo aku ngobrol sesuatu sama dia, pasti bisa nyambung. Mulai dari musik, olahraga, sampe novel, dia ngerti semua. Emang bener-bener cewek idamanku. Klo kami udah ngobrol, dunia serasa milik kami berdua. Tugas Biologi pun kadang-kadang jadi terlupakan.

Mulai hari itu kami makin akrab. Aku sering nelpon ke rumahnya. Basa basi nanya PR, pelajaran, atau sekedar ngobrol biasa. Gak cuma aku aja yang nelpon, dia juga mulai suka nelpon aku. Untungnya kami tau diri, jadinya kalo nelpon pun, kami gak pernah lebih dari lima belas menit. Aku jadi makin suka sama dia, tapi dia gak tau klo aku itu sebenernya suka ama dia, soalnya aku gak pernah sekalipun nyoba buat ngomong ke dia. Sebenernya aku pengen ngomong kalo aku itu sebenernya suka sama dia, tapi aku takut nanti jadinya malah persahabatan kami retak. Dia juga pernah ngomong kalo dia itu gak bakalan pacaran sampe dia udah lulus kuliah. Itu tekad dia, yang sekaligus buat aku ciut. Lama emang. Kami baru kelas 3 smu, dan aku sadar kalo kami itu masih terlalu kecil buat menjalin janji, masih labil, masih bau kencur, and masih gampang kebawa emosi.

Ebtanas tinggal satu bulan lagi, itu artinya gak lama lagi aku and Nadya harus pisah. Sedih rasanya harus pisah sama orang yang bener-bener aku sayangin. Dia pernah bilang setelah lulus smu ini dia mau ngelanjutin kuliah di Bandung, tempat asalnya. Sedangkan aku paling gak jauh-jauh dari Yogyakarta ini, kota di mana aku dilahirkan. Itu berarti sebulan atau dua bulan lagi kami akan berpisah, sambil dibatasi oleh jauhnya Bandung dan Yogya. “Namanya juga hidup, kalo ada pertemuan pasti ada perpisahan”, cuma itu yang biasanya aku katakan buat menghibur diriku sendiri.

Satu bulan pun berlalu, dan saat itu pun akhirnya tiba juga, saat di mana kami harus berpisah. Setelah sekian lama kami berteman, dan sekian lama juga aku memendam perasaanku ke Nadya, akhirnya kami harus berpisah. Tapi sebelum kami berpisah, sehari sebelum Nadya pindah ke Bandung, ada kekuatan, yang entah dari mana asalnya, memaksa aku supaya ngomong ke Nadya tentang apa yang ada di dalam hatiku ini. Seperti tanpa kendali, ketika seharusnya aku mengucapkan kata-kata selamat tinggal, justru kata-kata yang gak pernah aku bayangin bakalan keluar akhirnya justru aku ungkapin, “Aku suka kamu”. Dan ketika itu, aku bisa dengan jelas melihat muka Nadya yang terkejut mendengar tiga buah kata yang baru keluar begitu saja dari mulutku. Bagaimana pun aku harus mengatakannya, dan aku udah siap untuk menghadapi segala konsekuensinya. Tapi, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, dia akan marah, nangis, and akhirnya persahabatan kami retak, tapi aku malah melihat senyumnya yang manis menghiasi wajahnya yang dari dulu memang sudah terlihat cantik. Sambil tersenyum dia bilang, “Sebenernya aku juga udah lama suka sama kamu, aku suka sama sikap kamu yang selalu baik sama semua orang, tapi aku takut kalo mau ngungkapin perasaanku ini. Aku takut persahabatan kita justru terganggu. Tapi setelah mendengar kata-kata kamu tadi, aku jadi berharap semoga kita akan bertemu lagi di lain waktu. Dan ketika itu, kita berdua udah sama-sama  besar, dan udah sama-sama bisa mengontrol emosi kita masing-masing. Dan saat itulah aku akan mulai untuk menerima cintamu. Tapi, jangan tutup diri kamu untuk orang lain, yang mungkin jauh lebih mencintai kamu daripada aku, dan aku pun pasti akan begitu”.

 

***

 

Aku pasti akan tersenyum begitu ingat peristiwa masa laluku itu. Tak terasa sudah hampir lima belas tahun berlalu semenjak perpisahan kami. Kini aku telah memiliki keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Seorang istri yang cantik, yang selalu mengerti bagaimana aku ini, dan selalu dapat meredam gejolak emosiku yang kadang-kadang tidak terbendung. Tapi, dia bukan Nadya yang dulu pernah aku sayangi. Dia adalah Wanda, teman kuliahku. Aku belajar dari kata-kata Nadya, dan mulai mencoba untuk mencintai orang lain, dan nampaknya Wanda telah berhasil meluluhkan hatiku ini, membuatnya dapat menggantikan Nadya dalam hatiku. Tapi, bagaimana pun juga Nadya akan tetap ada di dalam hatiku, dan selalu menghiasi kenangan manis masa remajaku.

DIVA (kayaknya cerpen pertama deh…)

Filed under: cerita tidak pendek - Administrator @ 5:57 pm

Aku punya sebuah cerita. Ceritanya tentang seorang cewek lugu dan ramah, tapi itu sebelum perubahan yang dibuatnya sendiri. Namanya Diva. Diva itu bukan teman, pacar, atau saudaraku. Diva cuma gambaran seorang manusia yang buta, cuma gara-gara cinta.

 

Diva itu pendiam, tapi pintar. Nggak gampang bergaul, tapi enak kalo diajak ngobrol. Serius, tapi tetap murah senyum. Diva paling suka baca buku, atau menulis. Nulis apa aja, mulai dari cerpen sampai cerjang. Tampangnya gak begitu jelek, walaupun dihiasi kacamata minus empatnya. Giginya yang kurang rapi tampaknya lebih bagus kalo dipasang kawat gigi. Tapi Diva memang cewek yang gak begitu mikirin penampilannya, Diva gak peduli sama kritikan teman-temannya.

Di balik sifatnya yang pendiam itu, ternyata Diva punya  perasaan yang udah lama dia pendem sendirian, gak pernah Diva ungkapin ke siapapun, termasuk ke buku diary-nya –soalnya dia memang gak punya-. Diva lagi seneng sama seorang cowok ganteng temen sekelasnya. Namanya Ridwan. Ridwan itu emang banyak yang seneng. Gimana enggak, muka lumayan, pinter nge-basket, maen gitarnya udah kayak Santana, suaranya kayak Fadly, baik lagi orangnya, pokoknya dia itu cowok impiannya Diva deh. Ridwan sebenernya udah lama jadi temen Diva. Tapi Diva baru ngerasa sesuatu pas pertama kali ngeliat Ridwan main gitar sambil nyanyi waktu ada acara piknik di sekolahnya. Waktu itu Diva sama sekali gak bisa kedip ngeliat Ridwan ngegitar. “Keren, cool….”, kata Diva dalam hati. Sejak itu Diva jadi seneng ngobrol sama Ridwan. Diva  baru sadar kalo temennya itu ternyata enak diajak ngobrol. Tapi Diva malu kalo ngobrol sama Ridwan, Diva gak pernah natap muka Ridwan. Diva ngerasa mukanya jeleeek banget kalo ada di deket Ridwan.

Sejak Diva suka sama tu cowok, Diva mulai merhatiin penampilannya. Kalo sebelumnya Diva jarang ngaca, sekarang Diva paling lama kalo udah ada di depan kaca. Tapi bukannya sibuk muji dirinya, tapi justru Diva sibuk maki-maki dirinya sendiri. “Dasar jelek!”, itu ucapan yang sering keluar dari mulut Diva buat dirinya sendiri. Diva mulai nyoba ‘ngebenerin’ mukanya. Diva beli semua obat perawatan muka, dari yang murah sampe yang mahal. Ibunya sih malah seneng, soalnya emang udah dari dulu ibunya pengen ngeliat anaknya jadi cakep. Jadi gak masalah kalo Diva jadi boros gitu. Lagian makin hari emang Diva makin ‘mendingan’. Kacamatanya udah diganti lensa kontak, giginya juga udah dipasang kawat gigi. Jerawatnya udah transmigrasi gak tau ke mana.

Tapi sayang, sejak penampilan Diva berubah sifatnya juga mulai berubah. Pelajaran pun Diva udah gak merhatiin. Yang ada di benaknya cuma, “bagaimana supaya Ridwan suka sama gue”. Keluguan dan keramahannya juga mulai hilang. Diva mulai suka dengerin musik, nonton konser bareng temen-temen barunya, dan pelan-pelan mulai ninggalin temen lamanya. Termasuk best friend nya sendiri, si Alvin. Padahal Alvin lah orang pertama yang jadi temen Diva waktu mereka pertama kali masuk SMU. Mereka suka ngerjain P R bareng, diskusi, atau ke perpustakaan buat baca buku sastra yang tebelnya bisa lebih dari 10 inchi!. Tapi sekarang, Alvin jugalah orang pertama yang benci sama perubahan yang terjadi sama Diva. Mereka udah gak pernah lagi ngerjain P R bareng, diskusi, apalagi ke perpustakaan bareng. Walaupun benci tapi Alvin gak pernah mau ngomongin masalah itu ke Diva. Alesannya Alvin gak mau Diva sakit hati. Yah, namanya juga best friend.

Sekarang Diva udah keliatan nyaris sempurna. Mukanya udah 180 derajat beda dengan mukanya 5 bulan yang lalu. Selama 5 bulan Diva berjuang keras ngerubah mukanya, 5 bulan Diva mulai jauh dari Alvin, 5 bulan itu juga Diva gak peduli sama pelajaran di sekolah. Ibunya yang sebelumnya seneng ngeliat anaknya tambah caem, sekarang mulai khawatir. Diva jarang belajar, jarang telpon-telponan lagi sama Alvin, dan mulai suka ngabisin waktunya sambil dengerin radio atau baca majalah Hai, Gadis atau Kawanku, yang rutin tiap bulan beredar.

Diva yang sekarang bukan lagi Diva 5 bulan yang lalu, bukan lagi Diva yang ramah, lugu, dan pintar, tapi udah berubah jadi Diva yang cantik dan gaul, tapi sombong dan males. Sekarang Diva udah berhasil ngerubah mukanya, dan sekarang Diva mulai gencar ngedeketin Ridwan, cowok idamannya. Diva sering nelpon ke rumahnya. Tapi anehnya Ridwan juga mulai berubah. Ridwan jarang mau ngobrol sama Diva, paling-paling kalo terpaksa aja dia baru mau ngomong. Diva jadi heran, “apa yang kurang dari gue? muka gue kan sekarang udah cantik”.

Suatu hari Diva punya niat buat nelpon ke rumah Ridwan, Diva mau nanya soal berubahnya sikap Ridwan akhir-akhir ini. Diva ngangkat gagang telepon dan mulai memencet tombol-tombol telpon. Selang beberapa detik kemudian di seberang sana telpon diangkat. Pas waktu itu Ridwan yang ngangkat:

“Hallo, Ridwan ya?”, Diva langsung kenal suara Ridwan

“Ya. Ada apa?”, jawab Ridwan dengan nada males

“Enggak, aku lagi pengen aja nelpon kamu”,

“Sori nih, aku lagi sibuk”, kata Ridwan cuek

“Kamu kenapa sih, marah ya sama aku?”

“Enggak, aku lagi males ngobrol aja”

“Kamu bohong. Akhir-akhir ini kamu kayak ngehindarin aku. Kamu udah gak kayak dulu lagi, kamu udah gak mau temenan lagi sama aku ya?”, kata Diva sambil manyun

“Sebenernya aku yang mau nanya ke kamu. Kamu yang akhir-akhir ini berubah, kamu udah gak kayak kamu yang dulu, udah gak lagi ramah, gak murah senyum. Kamu juga mulai lupa sama temen-temen kamu yang dulu. Alvin cerita sama aku kalo kamu udah gak mau ngobrol lagi sama dia”,

“Alvinnya aja yang gak mau gaul. Dia udah ketinggalan jaman”, kata Diva sewot

“Emangnya kamu kira kalo kamu udah gaul, udah bisa ngikutin mode, terus kamu jadi hebat, jadi yang nomor satu, seenaknya ngelupain temen-temen kamu. Enggak, kamu justru jadi orang yang paling bodoh di dunia ini, kamu gila penampilan sampe ngorbanin temen-temen kamu”, Ridwan sekarang jadi galak.      “Pokoknya aku gak mau ngobrol, atau bahkan ketemu kamu lagi, kalo kamu masih gak mau berubah, dan masih pengen mempertahankan kemodisan kamu. Semua pilihan ada di tangan kamu, terserah kamu, kamu mo pilih temen-temen mu yang ketinggalan jaman, atau kamu milih tetep modis dan ngorbanin temen-temen yang udah lama deket sama kamu. Sebenernya dulu aku suka sama kamu, sama keramahan kamu, sama keluguan kamu, dan semua yang kamu dulu punya, tapi sekarang kamu gak punya itu semua. Aku cuma pengen kamu sadar itu aja”, Ridwan langsung nutup gagang telepon, pura-pura gak peduli sama Diva yang udah sesenggukan di telpon. Diva langsung diem dan udah gak bisa ngomong apa-apa lagi, air matanya udah banjir ngebasahin baju Pokemon kesayangannya. Ridwan sebenernya gak pengen bikin Diva kayak gini, tapi demi kebaikan Diva, Ridwan terpaksa harus ngeluarin seluruh isi hatinya.

Pelan-pelan akhirnya Diva nutup gagang telepon juga, terus Diva nangis sekenceng-kencengnya, gak peduli kalo tetangganya pada bangun. Ibunya yang sedari tadi nguping lewat telpon di kamarnya, cuma bisa diem. “Biar Diva merenung sendiri dulu, besok baru Ibu akan ngomong ke Diva”, batin si Ibu.

Semalaman itu Diva terus nangis sambil gak habis-habisnya nyesel. Ternyata Ridwan gak kayak yang Diva kira. Ridwan gak kayak cowok rata-rata yang cuma merhatiin muka dan body. Ridwan ternyata juga merhatiin hati dan kelakuan Diva. Diva juga sekarang inget kalo Diva ternyata punya temen sejati yang selama 5 bulan ini Diva cuekin. Setelah Diva mencerna semua kata-kata Ridwan tadi dan mencoba-coba untuk nginget hal-hal manis yang selama ini Diva  lewatin sama Alvin. Diva mulai sadar kalau Alvin lah yang selama ini ada di dekatnya dalam suka dan duka. Alvin ikut seneng kalo Diva seneng, Alvin yang ngebangkitin Diva kalo Diva lagi sedih. Diva mulai ngerasa bersalah banget sama Alvin, dan juga Ridwan.

Detik itu juga Diva ngeberaniin diri buat nelpon Alvin, dia gak peduli kalo nanti Alvin marah, yang penting dia sekarang mau minta maaf ke Alvin, dan mau ngebenerin persahabatannya lagi sama Alvin.

Gak kerasa Diva dan Alvin udah beberapa jam ngobrol di telpon. Gak kayak yang Diva duga, Alvin sama sekali gak nunjukin rasa bencinya dulu sama Diva. Alvin bersedia menampung semua unek-unek yang dikeluarin Diva saat itu. Air mata juga sudah sedari tadi ngebasahin pipi mereka berdua, walau kadang-kadang mereka ketawa bareng kalo inget sama kelakuan mereka dulu. Tampaknya Alvin memang bisa jadi seorang teman yang sejati.

“Maapin aku ya Lin, aku gak nyangka kalo kamu emang temanku yang paliiiing baik and perhatian sama aku”

“Gak apa-apa, yang penting kan sekarang kita bisa ngobrol lagi, trus bisa ngecengin cowok sama-sama, nonton konser sama-sama, and sekali-kali tetep ke perpus bareng”

Hah…? Diva jadi bingung, ternyata Alvin gak se-kuper yang dulu dia bayangin. Akhirnya mereka ketawa  sekeras-kerasnya. Ibu Diva yang ternyata masih ngupingin obrolan mereka dari tadi, jadi kepingin ketawa juga.

“Hi…hi…hi…., kayaknya Ibu udah gak usah ikut campur lagi masalah Diva. Dasar anak muda jaman sekarang!”

Ibu melirik jam tangannya, jam sekarang udah nunjukin pukul 23:45

 

#          #          #

 

Diva sekarang sadar kalo selama ini salah menilai arti sebuah cinta, cinta yang selama 5 bulan Diva coba berikan ke orang yang Diva sayangi, dan cinta yang telah diberikan sama orang yang selama ini mencintai Diva dengan tulus

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

-->
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service