dimulai dengan pertanyaan, kenapa di dalam tubuh seseorang bisa terdapat 2 dasar kepribadian. mungkin akan terasa wajar apabila dua kepribadian tadi saling membantu atau mirip-mirip sehingga saling menguatkan. tapi klo 2 kepribadian tadi adalah sesuatu yang saling berlawanan, tentunya orang yang memilikinya akan mengalami suatu pertarungan batin di dalam dirinya sendiri. mungkin itu yang lagi terjadi di dalam diri gw, dan juga mungkin istri gw. dua dasar kepribadian kami adalah Sanguinis dan Melankolis.
gak ada sih ilmu yang cukup bagi gw buat ngebahas bidang ini. tapi tetep aja gw pengen berpendapat dan berargumen dengan ilmu yang seadanya, hehehe…
sanguinis, seperti yang kebanyakan orang udah pada tau, adalah suatu bentuk kepribadian dengan sifat2 ceria, supel, enjoy, suka bicara dan sifat2 sejenisnya. jenis ini dekat dengan bentuk kepribadian yang lain, yaitu plagmatis. klo dua kepribadian ini ketemu, jadinya cocok, saling menguatkan. sedangkan jenis yang bertolak belakang dengan kepribadian ini adalah melankolis yang memiliki sifat2 serius, sensitif, menghindari perhatian, dan yang kayak gitu deh. tentu saja, dengan sifat2 tadi, tentu saja sanguinis dan melankolis bukan dua jenis yang dapat ‘hadir bersama’. tapi sayangnya, yang gw alamin adalah hal yang bagi gw gak wajar, karena di dalam diri gw justru ada dua kepribadian yang saling bertentangan tadi, sanguinis dan melankolis.
yang gw sadarin, dulunya gw sama sekali bukan orang yang melankolis, atau klo pun emang ada sifat itu, pasti porsinya kecil banget di dalam diri gw. seiring berjalannya waktu dengan segala kejadian yang gw alamin, gw mulai ngerasa ada sosok lain di dalam diri gw yang nampaknya selalu ngomong ‘tu kan bener lo salah!!!’ setiap kli ada sesuatu yang buruk atau jelek nimpa gw. dari situ gw kayak punya sosok yang bisa diajak ngobrol dan diskusi tentang banyak hal dalam hidup gw. lama kelamaan karena gw sangat ngedengerin sosok melankolis itu, akhirnya dia makin besar dan besar, dan akhirnya jadi sosok yang juga cukup dominan, bahkan mungkin sempat sangat dominan, dalam diri gw. tapi tetep aja, sifat dasar gw adalah sanguinis, jadi ketika sosok melankolis itu muncul dan mulai mendominasi diri gw, yang terjadi adalah sifat sanguinis dalam diri gw berontak. akhirnya untuk waktu yang sangat lama diri gw jadi semacam tempat pertarungan. sesuatu yang sangat nggak nyaman bagi gw. suatu keadaan di mana gw gak pernah bisa ngelakuin sesuatu secara total karena klo gw mo ngelakuin sesuatu yang mungkin berdasarkan sifat sanguinis gw, maka sifat melankolis gw bakal menentang. mungkin ini yang disebut keadaan yang ‘ambivalen’, istilah baru bagi gw yang gak gw pahamin sepenuhnya
waktu terus berlanjut, gw ngalamin keadaan yang bikin gw harus terus berpikir dan berpikir. semua masalah yang muncul harus diberesin, semua tekanan harus dihadapin. suatu saat diri gw ngalamin yang namanya ketidakmampuan untuk menghadapi hidup, karena semua kondisi yang gw alamin tadi. tapi gak disangka, keadaan itu justru bikin dua kepribadian gw tadi jadi ‘kompak’. dua kepribadian tadi sama2 ngerasa harus berbuat sesuatu buat ‘bertahan hidup’, dan sama2 sadar klo keadaan yang gak akur tadi bikin semuanya jadi terasa sulit. cuma ada satu cara, saling memaafkan, saling mendukung, dan saling memahami. dan detik ini, gw sedang dalam proses, menjadi lebih baik dan menjadi satu kepribadian yang utuh, yang akan mengalahkan semuanya!
mungkin seakan2 gw ini berkepribadian ganda. mungkin bener, tapi gak seutuhnya bener. karena gw masih ngerasa klo kepribadian gw gak sampe split dan saling menguasai diri gw sendiri2. keadaan yang gw rasain adalah kayak gini, ada dua baju kepribadian yang sama2 menarik bagi gw. baju2 tadi gw pake sesuai dengan keadaan hati gw, sanguinis pas gw lagi ceria, atau melankolis pas gw lagi sedih. gw tetep yang nentuin, wlo selama ini selalu terlalu sulit untuk mutusin mana yang gw pake,efek ambivalena tdai, dan itu yang bikin gw stres dan depresi, ketidakmampuan memutuskan mana yang gw anggap baik dan akan gw pake. secara sadar gw tau pas sanguinis gw muncul, begitu juga pas melankolis gw muncul.
sebenernya sanguinis gw adalah sifat terdasar gw, tapi kemudian muncul sifat melankolis sebagai suatu bahan pertimbangan pemikiran lain, atau mungkin semacam alternatif ego, pas gw lagi sendiri, pas gw lagi berdiskusi dengan diri sendiri. ini dia, mungkin dari diskusi2 kayak tadi yang bisa dibilang bikin kepribadian gw mulai terbagi.
cerita yang lebih detail tentang kehidupan gw yang ‘berwarna’ ini gw lanjutin ke postingan gw berikut. tapi masih bersambung dulu ya, hehe…